Dewan Kakao Indonesia (Indonesian Cocoa Board/ICB) semakin serius dalam upayanya menjelajahi pasar Uni Eropa. Dengan dukungan Proyek Arise+, ICB baru-baru ini mengadakan kunjungan penting ke Italia dan Swiss. Di Italia, mereka mengunjungi lembaga pengujian, lembaga sertifikasi, serta pabrik cokelat pengrajin. Selain itu, ICB juga menghadiri pertemuan indikasi geografis Uni Eropa yang diadakan di Swiss.
Kunjungan ini membuahkan hasil berupa penandatanganan dua perjanjian kerja sama penting. Pertama, ICB menandatangani perjanjian dengan Chocolate Way Association di Italia. Kedua, Berau Cocoa Geographic Indication Protection Society dari Indonesia menjalin kerja sama dengan Cioccolato di Modica PGI, yang merupakan produsen cokelat terkemuka di Italia. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka pintu yang lebih luas bagi kakao Indonesia untuk masuk ke pasar Eropa, khususnya melalui jalur pengakuan indikasi geografis yang memiliki nilai tambah bagi produk kakao lokal.
Dalam kerangka kerja sama ini, tiga sampel biji kakao dari Indonesia — yaitu dari Berau (Kalimantan Timur), Jembrana (Bali), dan Ransiki (Papua Barat) — telah dikirim ke laboratorium di Italia untuk menjalani serangkaian uji kualitas. Hasil analisis terhadap kualitas fisik, sifat kimia, senyawa gizi, antioksidan, serta residu pestisida dan logam berat menunjukkan bahwa ketiga sampel tersebut memenuhi standar tinggi yang dipersyaratkan oleh pasar Uni Eropa. Hal ini menjadi kabar baik bagi sektor kakao Indonesia yang tengah berupaya memperluas ekspornya ke kawasan tersebut.
Menjelang penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) pada tahun 2025, Dewan Kakao Indonesia juga telah aktif mempersiapkan diri. ICB terlibat dalam diskusi dan negosiasi bersama pemerintah Indonesia serta para pemangku kepentingan kakao di tanah air untuk memastikan bahwa sektor kakao siap memenuhi regulasi lingkungan yang ketat dari Uni Eropa. Dengan berbagai langkah proaktif ini, ICB berharap Indonesia dapat meningkatkan ekspor kakao yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi di pasar global.
Langkah ini menunjukkan komitmen Dewan Kakao Indonesia dalam mempromosikan biji kakao lokal dan menjadikannya pemain utama di pasar internasional, dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan dan standar kualitas yang tinggi.
